emotion.miracle.stories

emotional and whole time literary lover.

Aku membawa keping-keping kisah yang tersisa dari ribuan kilometer masa laluku.

Menatanya lagi, memutarnya lagi dan memimpikannya.  Kenangan yang hinggap dengan manisnya di otak kecil ini mengajakku kembali mengingat suatu pagi, sebuah tempat dan satu nama.

Bagaimanapun keadaannya, aku selalu menyiapkan hati.

Jika hanya mengalahkan dini hari yang membekukan nafas saja aku pasti mampu

.. dan ketika itulah dia datang.  Satu nama.

**

Pergilah kami menembus deretan lampu kota yang masih menyisakan pijar, menangkap bayangan sampah semalam serta menghirup udara liar yang sesekali menyeruak.

Saat itulah kami terlalu jujur, bertukar rindu dari pantulan pandangan.

**

“Aku menikmati cantikmu yang menyentuh fajar, lugu.. dijatuhi tetesan embun.”

Aku diam.  Seperti itukah wanita di hadapanmu ini?

.. yang sedang menyeret-nyeret hatinya yang sekarat -hampir mati.

“Aku mengagumi setiamu, menemaniku dalam percakapan melawan jarak.”

Aku diam, lagi.  Seperti itukah wanita di hadapanmu ini?

.. yang mulai putus asa menitipkan bisikan pada angin berharap kau mendengarnya.

“Aku merindukan senyummu.”

Aku tersenyum, kesekian kalinya.  Untukmu.

Sebelum ‘kukuburkan dengan sempurna di hamparan perasaanku yang mulai tandus.

**

Sekarang, kembalilah aku dari perjalanan ribuan kilometer itu.

Terpaku -tapi bukan menangisi pada kepingan kisah yang masih berputar di hadapanku.  Bukan begitu saja mengorbankan ingatanku akan suatu pagi, sebuah tempat dan satu nama,

.. hanya enggan menerimanya datang lagi

.. hatiku menolak untuk hancur, lagi.